SETITIK GORESAN TENTANG HATI YANG TAK BISA MELUPAKAN part 6
Disaat itu aku mulai merasa bahwa kebahagiaanmu bukanlah bersamaku, dan perlahan-lahan aku mulai mundur dengan hati yang terluka, menjauh dengan membawa cinta yang tak semesti aku jaga.
Iya aku tau itu, aku tidak pantas mencintaimu, tapi apakah salah seseorang yang tulus dan tidak mengharapakan apa-apa mencintaimu dengan sempurna.
Aku mulai rapuh, prinsipku tentang aku tetap ingin mencintaimu walau perihpun mulai tak aku pegang lagi, aku hancur,
Betapa sakitnya hati ini melihat perubahan yang jelas didepan mata. Melihat orang yang ia cintai sangat bahagia menghabiskan waktu dengan mereka, melihat kebebasan berbicara kepada mereka, betapa rapuhnya hati ini saat itu.
Aku hanya bisa menatap langit, seandainya langit bisa berbicara(fikirku) akan aku ceritakan semua tentang kegelisahan hati ini, semua tentang kerapuhan hati ini dan semua tentang cinta yang tulus yang aku simpan di hati ini.
Sayangnya, langit tidak bisa mendengar apapun, menjerit sekencang apapun aku, langit tetap lah langit dan ia tidak akan bisa mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan.
Aku terdiam dan mulai paham betapa kejamnya ketika cinta tidak terbalaskan, betapa sakitnya mencintai tanpa di cintai dan betapa perihnya hati yang ingin memiki namun hanya dapat tersakiti.
Aku rasa saat itu bahwa cinta sangat begitu kejam(menurutku), ia melumpuhkan hati yang sedang bahagia, ia patahkan hati yang sedang mencinta, bukankah sangat kejam seperti itu?
Yakinlah, tidak ada seorangpun mau seperti itu, hanya saja ia melihat kenyamanan hatinya terhadapmu, tidak adakah rasa sedikitpun kau untuk memahaminya, tidak adakah rasa sedkitpun kau untuk membalasnya.
Tidak usah berpura-pura mencintai, cukup katakan “terima kasih telah menempatkan aku di hatimu”, mungkin sudah begitu cukup bagiku saat itu,
Tidak bisakah kau menghargai sedikit saja perjuanganku?
Aah sudahlah, mau bagaimanapun kata-kata seperti itu tidak akan pernah terucapkan dari mulut manisnya, tidak usah berharap lebih, pergi saja dengan membawa rasa, sejauh manapun engkau tiba, rasa yang tulus tetaplah ada untuknya.
Tidak maukah kau berfikir sayang?(untuk yang kedua kalinya namamu aku panggil sayang), betapa cintanya aku kepadamu, betapa berharapnya hati atas kehadiranmu, sedikit saja kau tidak berfikir, rasa ingin tau sedikitpun kau saja tidak mau, bagaimana untuk singgah dan menetap dihatiku.
Iya aku tau itu, aku tidak pantas mencintaimu, tapi apakah salah seseorang yang tulus dan tidak mengharapakan apa-apa mencintaimu dengan sempurna.
Aku mulai rapuh, prinsipku tentang aku tetap ingin mencintaimu walau perihpun mulai tak aku pegang lagi, aku hancur,
Betapa sakitnya hati ini melihat perubahan yang jelas didepan mata. Melihat orang yang ia cintai sangat bahagia menghabiskan waktu dengan mereka, melihat kebebasan berbicara kepada mereka, betapa rapuhnya hati ini saat itu.
Aku hanya bisa menatap langit, seandainya langit bisa berbicara(fikirku) akan aku ceritakan semua tentang kegelisahan hati ini, semua tentang kerapuhan hati ini dan semua tentang cinta yang tulus yang aku simpan di hati ini.
Sayangnya, langit tidak bisa mendengar apapun, menjerit sekencang apapun aku, langit tetap lah langit dan ia tidak akan bisa mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan.
Aku terdiam dan mulai paham betapa kejamnya ketika cinta tidak terbalaskan, betapa sakitnya mencintai tanpa di cintai dan betapa perihnya hati yang ingin memiki namun hanya dapat tersakiti.
Aku rasa saat itu bahwa cinta sangat begitu kejam(menurutku), ia melumpuhkan hati yang sedang bahagia, ia patahkan hati yang sedang mencinta, bukankah sangat kejam seperti itu?
Yakinlah, tidak ada seorangpun mau seperti itu, hanya saja ia melihat kenyamanan hatinya terhadapmu, tidak adakah rasa sedikitpun kau untuk memahaminya, tidak adakah rasa sedkitpun kau untuk membalasnya.
Tidak usah berpura-pura mencintai, cukup katakan “terima kasih telah menempatkan aku di hatimu”, mungkin sudah begitu cukup bagiku saat itu,
Tidak bisakah kau menghargai sedikit saja perjuanganku?
Aah sudahlah, mau bagaimanapun kata-kata seperti itu tidak akan pernah terucapkan dari mulut manisnya, tidak usah berharap lebih, pergi saja dengan membawa rasa, sejauh manapun engkau tiba, rasa yang tulus tetaplah ada untuknya.
Tidak maukah kau berfikir sayang?(untuk yang kedua kalinya namamu aku panggil sayang), betapa cintanya aku kepadamu, betapa berharapnya hati atas kehadiranmu, sedikit saja kau tidak berfikir, rasa ingin tau sedikitpun kau saja tidak mau, bagaimana untuk singgah dan menetap dihatiku.
Komentar
Posting Komentar